Belajarlah dari Kesalahan, AS Monaco!

liga366.today merupakan situs Artikel Bola dan Prediksi Bola akurat, untuk Judi Bola, tersedia rekomendasi Agen SBOBET untuk Taruhan Bola dan Judi Bola Online

Hidup selalu berputar. Kadang kita di atas dan kadang juga di bawah. Begitu juga dengan sepakbola. Tidak selamanya sebuah kesebelasan berada di level teratas. Suatu saat, mereka pasti merasakan berada di level bawah. Mungkin itu gambaran yang dialami AS Monaco.

Musim 2016/17 merupakan musim yang hebat bagi AS Monaco. Pada musim itu, “Los Rouge et Blanc” berhasil menjuarai Ligue 1 bersama Leonardo Jardim dan menghentikan kedigdayaan Paris Saint-Germain yang sudah menjuarai Ligue 1 selama empat tahun berturut-turut. Bahkan pada musim itu, mereka berhasil menembus semifinal Liga Champions sebelum langkah mereka dihentikan Juventus.

Kala itu, Los Rouge et Blanc diisi oleh pemain-pemain muda berbakat seperti Kylian Mbappe, Tiemoue Bakayoko, Fabinho, Thomas Lemar, Benjamin Mendy, Bernardo Silva, dan pemain berpengalaman seperti Radamel Falcao. Mereka menjadi sebuah kesebelasan yang hebat dan mampu bersaing di papan atas.

Performa apik itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada musim 2018/19 ini. Mereka harus terlempar dari papan atas dan justru berjuang untuk lolos dari zona degradasi.

***

Penurunan performa AS Monaco terjadi karena pemain-pemain penting mereka dijual ke klub-klub kaya Eropa. Pada musim panas 2017, AS Monaco menjual pemainnya secara besar-besaran. Godaan-godaan dari klub kaya Eropa tak sanggup ditolak oleh manajemen AS Monaco.

Bakayoko dijual ke Chelsea, Mendy dan Bernardo Silva dijual ke Manchester City. Bintang muda Perancis, Kylian Mbappe, dipinjamkan ke PSG sampai akhir musim, dan dipermanenkan pada musim berikutnya dengan biaya transfer sekitar 180 juta euro. Meskipun begitu, pada musim 2017/18 mereka masih dapat bersaing di papan klasemen dan berada di posisi runner up pada akhir musim.

Penjualan pemain-pemain pilar Monaco berlanjut pada musim panas 2018. Fabinho, Joao Moutinho, dan Thomas Lemar akhirnya dijual. Secara finansial, AS Monaco meraup keuntungan yang besar. Namun dari segi tim, mereka kehilangan keseimbangan.

Pemain-pemain baru yang didatangkan tidak bisa menutup posisi pemain pilar yang keluar. Ditambah lagi banyaknya pemain yang cedera membuat tim tidak tampil maksimal. Akhirnya pada musim 2018/19, kesebelasan asuhan Leonardo Jardim harus mampir ke zona degradasi. Dari sembilan laga yang dilakoni, mereka hanya bisa memetik sekali kemenangan, tiga hasil imbang dan lima kali kekalahan. Jardim pun dipecat.

Thierry Henry ditunjuk menggantikan Jardim pada Oktober 2018. Namun karier kepelatihannya tak berjalan mulus. Henry tak bisa membawa AS Monaco keluar dari zona degradasi. Dari 20 pertandingan yang dipimpinnya, Henry hanya mampu mencatatkan empat kemenangan dan 11 kali kekalahan. Persentase kemenangannya hanya sebesar 20%.

Menunjuk Henry menjadi pelatih AS Monaco memang terlalu riskan. Meski punya nama besar sebagai pemain, legenda Arsenal ini minim pengalaman sebagai pelatih. Pengalamannya hanya menjadi asisten pelatih Timnas Belgia mendampingi Roberto Martinez. Performa buruk yang ditampilkan anak asuhannya membuat Henry dipecat dari kursi pelatih pada 24 Januari 2019 lalu. Henry hanya bekerja selama tiga bulan di Monaco.

Kegagalan Henry membuat manajemen AS Monaco kembali menunjuk Jardim yang dikontrak sampai 20 Juni 2021. Kedatangan Jardim diharapkan membawa AS Monaco keluar dari zona degradasi.

Bertandang ke markas Guingamp pada laga semifinal Piala Liga Perancis menjadi pertandingan “pertama” Jardim bersama Monaco. Mereka harus mengakui kekalahan dari Guingamp lewat adu penalti, setelah berakhir imbang 2-2 dalam waktu 90 menit. Tapi di Ligue 1, Jardim mampu mengamankan tiga poin melawan Toulouse.

Butuh waktu untuk membuat AS Monaco kembali ke performa terbaiknya. Namun kembalinya Leonardo Jardim ditambah kedatangan pemain-pemain baru seperti Cesc Fabregas dan Alexander Golovin diharapkan mampu meningkatkan performa tim.

Manajemen AS Monaco patutnya belajar dari kesalahan karena terlalu jor-joran menjual pemain-pemain bintangnya. Memang dalam era industri sepakbola sekarang, klub sepakbola dituntut untuk mencari keuntungan. Namun bukan berarti sebuah klub harus menjual pemain-pemain bintangnya ketika mereka belum siap. Dengan masih banyaknya pemain yang kemungkinan akan digoda kesebelasan besar, mereka kini harus mulai memikirkan nasib mereka sendiri ketimbang tergiur puluhan juta euro yang menambah tebal finansial.

Related posts

Leave a Comment